Saat ini, biaya  kuliha yang mahal, di tambah dengan biaya hidup yang terus menibgkat membuat para mahasiswa IPB berfikir untuk menghasilkan uang guna memenuhi kebutuhan meraka tersebut. Pelatihan-pelatihan mengenai enterprenership juga jejak sukses para enterprener muda IPB telah mengispirasi para mahasiswa untuk merealisasikan ide kreatif mereka guna menambah uang saku.

Salah satu usaha tersebut adalah usaha penjualan Pin dan gantungan kunci HADE MEDIA Pusat Pin Indonesia. Usaha pin ini pada awalnya meupakan kepanitiaan, tepatnya divisi Dana dan usaha. Setelah acara tersebut berakhir, beberapa diantara mereka melihat peluang yang sangat baik dari bisnis tersebut. Akhirnya, Wahyu, Edi, Dimas, dan Ardiansyah, mulai membentuk tim untuk memulai usaha ini. Dengan modal uang sebesar empat juta rupiah mereka memuali bisnis ini.

Dalam perusahaan ini mereka membagi empat divisi, yaitu bagian design, distributor, Produksi, dan marketing. Mereka menambahkan kata-kata pusat pin Indonesia karena mereka memang menginginkan perusahaan ini dapat menjadi pusat pemesanan pin se-Indonesia. Ternyata harapan mereka ini tidaklah sia-sia. Saat ini pemesanana mereka sudah mulai keluar kota bogor, bahakan keluar pualau Jawa, diantaranya Palembang dan Kuningan. Bahkan mereka pernaha menerima pesanan pin untuk dibawa ke Malaysia.

Meraka beranggapan kesuksesan mereka tersebut selain atas kerja keras mereka, juga karena promosi yang mereka lakukan, yaitu melalui facebook dengan membuat grup yang saat ini sudah memiliki lebih dari tiga ribu lima ratus member.  Mereka juga menjalin kerja sama dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada di IPB, maupun di universitas lain. Selain kedua hal tersebut, perusahaan pin HADE media menjaga kualitas pin mereka dan kepuasan pelanggan, juga selalu berusaha memberikan pelyanan terbaik.

Berbicara mengenai keuntungan yang mereka peroleh dari usaha penjualan pin ini memang fluktuatif. Tapi rata-rata untuk setiap bulannya, Wahyu salah seorang penggagas bisnis ini mengatakan mereka dapat memperoleh keuntungan diatas UMR kota Bogor. Bahkan pada bulan Desember 2009, mereka mencetak 4000 pin, dan memperoleh keuntungan delapan juta rupiah. Ke depannya mereka berharap usaha mereka ini dapat terus berkembang dan dapat menjadi sebuah perusahaan percetakan.//Didit

ss

Mitos seputar warna ungu yang diidentikan dengan janda

U

ngu, warna yang dihasilkan ketika kita mencampur dua warna yaitu biru dan merah. Dibilang indah memang indah, tapi kenapa warna ini sering diidentikan dengan janda? Mungkinkah karena pria identik dengan biru dan perempuan dengan merah, kemudian ketika mereka menikah menjadi ungu, dan ketika bercerai warna itu tidak bisa kembali lagi? Atau mungkin ada penelitian yang menunjukkan bahwa para janda memang menyukai warna ungu? ataukah ada alasan lain kenapa warna ini diidentikan dengan janda?

Sebenarnya warna merupakan pertimbangan emosional, karena variasi warna dapat menyebabkan emosi yang berbeda pada tiap orang. Kita semua tahu bahwa warna hitam yang diidentikan dengan warna kematian misterius dan hal-hal yang menakutkan, disisi lain memiliki daya tarik dimana hitam juga mencerminkan kekuatan dan juga katangguhan atau malah keanggunan. Begitu pula dengan warna  hijau yang menunjukkan simbol uang atau mata duitan, tapi apakah kita tahu juga bahwa hijau merupakan simbol ketamakan, iri hati, dan kecemburuan.

Berkaitan dengan warna sebagai cerminan emosional seseorang, mungkinkah warna ungu merupakan bentuk ekspresi perasaan para janda? Padahal wanita yang sudah bercerai dari suaminya lebih banyak memakai nuansa warna merah menyala sebagai simbol kebebasan diri, kemarahan dan sensualitas. Selain itu dengan warna merah yang menyala dapat lebih mencolok untuk menarik lawan jenis. Secara historis, warna ungu telah terkait dengan royalti dan kuasa. Ungu merupakan kekayaan dan pemborosan. Ungu paling sering terhubung dengan bunga, gemstones, dan matahari terbenam. Hal negatif lain yang tercermin dari warna ungu adalah kegaiban dan kemurungan. Mungkin karena hal-hal negatif tersebutlah yang menyebabkan warna ungu diidentikan dengan janda. Dimana pengertian Janda yang beredar di masyarakat itu memang telah lama dicitrakan negatif bahkan dianggap rendah. Pengertian dan opini yang terbentuk di masyarakat ini khususnya ditujukan bagi para janda cerai.

Padahal menurut psikolog, warna ungu mempunyai efek tenang dan menyejukkan. Seringkali warna ungu dikaitkan dengan kesan yang berhubungan tentang wawasan yang luas, martabat, kehormatan, intuisi, dan sejahtera bahkan kesan anggun. Pengaruh warna ini dapat menginspirasikan pikiran dan membuat hati lebih tenang. Karena sifatnya yang tenang dan menyejukkan, ruang kerja dan ruang tidur sangat cocok jika diberi warna ungu. Sebaliknya warna ungu tidak tepat untuk ruang tempat beraktivitas. Yang unik, warna ungu sangat cocok untuk Anda yang sedang menjalani program diet karena mampu mengurangi rasa lapar. Warna ungu juga cocok untuk mengontrol rasa marah dan bisa meringankan suasana hati.

Sisi positif dari warna ungu ternyata jauh lebih banyak dari sisi negatifnya. Hal ini pulalah yang menyebabkan Pasha dan kawan-kawan memberi nama Grup Band mereka dengan ungu, dan terbukti fans dari grup band ini berasal dari semua kalangan bukan hanya dari para janda. Begitu pula dengan Rako Prijanto, Sutradara dari film ungu violet yang sempat meledak di pasaran di pasaran pada tahun 2005, menilai warna ungu bukanlah suatu warna yang menakutkan dan identik dengan janda. Sehingga mengangkat warna ini untuk judul filmnya.

Saat ini mitos warna ungu yang diidentikan dengan janda lambat laun memang semakin berkurang. Dimana saat ini banyak anak muda dan anak gadis yang menyukai warna ini. Hal ini ditunjukan dari banyak sekali barang-barang yang dibuat untuk kalangan remaja dengan wrana ungu. Jadi, memang tidak ada alasan yang jelas, kenapa warna ungu diidentikan dengan janda. So… jangan takut lagi untuk memilih warna ungu sebagai warna favorite anda. Karena selain manis warna ungu juga memiliki segudang manfaat. // Didit

“Pembangunan sering dianggap sebagai suatu ‘obat’ terhadap berbagai masalah yang muncul dalam masyarakat, khususnya pada Negara-negara yang sedang berkembang. Permulaan implementasi pendekatan pembangunan ialah ketika dikemukakannya “ Teori pertumbuhan” oleh kelompok otonom ortodoks. Teori ini menjelaskan bahwa ‘pembangunan sebagai pertumbuhan ekonomi yang pada akhirnya diasumsikan akan meningkatkan standar kehidupan (Clark 1991 dalam Fredian Tony 2006)[1]

Fredian Tony (2006) mengemukakan bahwa Pengembangan Masyarakat digunakan sebagai cara untuk memperbaiki pelayanan dan fasilitas public, menciptakan tanggung jawab pemerintah local, meningkatkan partisipasi masyarakat, memperbaiki kepemimpinan, , membangun kelembagaan-kelembagaan baru, melaksanakan pembangunan ekonomi dan fisik, dan mengembangkan perencanaan fisik dan lingkungan.[2]

Pengembangan Masyarakat atau Community development bisa didefinisikan  sebagai suatu metode atau pendekatan pembangunan yang menekankan adanya partisispasi dan keterlibatan langsung penduduk dalam proses pembangunan, dimana semua usaha swadaya masyarakat disinergikan dengan usaha-usaha pemerintah setempat dan stakeholders lainnya untuk meningkatkan taraf hidup dengan sebesar mungkin ketergantungan pada inisiatif penduduk sendiri, serta pelayanan teknis sehingga proses pembangunan berjalan efektif.[3]

Pengembangan masyarakat (community development) sebagai salah satu model pendekatan pembangunan  (bottoming up approach)  merupakan upaya melibatkan peran aktif masyarakat beserta sumber daya lokal yang ada. Dan dalam pengembangan masyarakat hendaknya diperhatikan bahwa masyarakat punya tradisi, dan punya adat-istiadat, yang kemungkinan sebagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai modal sosial.

Pada prosesnya, program pengembangan masyarakat ini tidak terlepas dari peranan media massa. Sebagai mana dikemukakan oleh Nuruddin, seorang ahli komunikasi dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Komunikasi Massa” mengemukakan bahwa “salah satu factor kemajuan masyarakat, diakui atau tidak disebabkan oleh peranan media massa.”

Media massa sebagai perangkat sosialisasi yang paling berpengaruh, tentu bisa berperan efektif berkenaan dengan masalah yang muncul pada program pengembangan masyarakat. Informasi yang diperoleh melalui berbagai media massa memegang peranan penting dalam membentuk sikap mental masyarakat agar dapat berperan secara aktif dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat ini. Media massa merupakan salah satu mitra kerja yang penting dalam pelancaran dan penyebaran informasi.

Peranan Media Massa Dalam Pengembangan Masyarakat

Media Massa sebenarnya merupakan kependekan dari istilah media komunikasi massa, yang secara sederhana dapat diberikan pengertian sebagai alat yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan serentak kepada khalayak banyak yang berbeda-beda dan tersebar di berbagai tempat.(Sucipto dkk 1998)[4]

Di era globalisasi ini, dimana teknologi telah berkembang dengan begitu pesat tidak dapat di pungkiri lagi media massa telah memegang peranan tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Salah satu peranan media massa yang berpengaruh dalam perkembangan masyarakat dapat dilihat dari segi moral. Dari sisi moral, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, semacam cinta sesama manusia, menghormati hak-hak orang lain, menyebarnya tradisi saling memaafkan dan mengasihi. Terkait hal ini, media massa bisa berperan positif dalam menyebarkan dan membumikan nilai-nilai moral. Penayangan acara yang mendidik namun menghibur merupakan salah satu cara efektif bagi media untuk membangun masyarakat yang sehat.

Media massa juga bisa berperan sebagai sumber rujukan di bidang pendidikan dan penyebaran informasi yang cepat. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat. Sekarang ini, media memiliki andil yang penting dalam mengajak masyarakat untuk memerangi kekerasan, dan tindak kriminalitas.

Peran media massa dalam bidang pendidikan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Wilbur Schramn (1964) :

Every school system in the world depends on printed material and audio visual aids are used to the extent that school can afford them [5]

Dari pernyataan Schramn tersebut jelas bahwa peranan media massa dalam pengembangan masyarakat khususnya dalam hal pendidikan formal tidak dapat dipisahkan. Karena setiap sekolah yang ada di dunia membutuhkan media sebagaia alat pembelajarannya. Baik itu media cetak berupa buku ataupun media audio visual.

Peranan media massa terhadap perubahan moral dan juga pendidikan yang nantinya akan berpengaruh terhadap pengembangan masyarakat yang akan terjadi sesuai dengan fungsi dari media massa itu sendiri. Berikut fungsi-fungsi dari komunikasi massa menurut Alexis S Tan :

Tabel 2.1

Fungsi Komunikasi Massa Alexis S. Tan

No. Tujuan Komunikator

(Penjaga system)

Tujuan Komunikan

(Menyesuaikan diri pada system : pemuasan kebutuhan )

1 Memberi informasi Mempelajari ancaman dan peluang, memahami lingkungan, menguji kenyataan, meraih keputusan.
2 Mendidik Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna memfungsikan dirinya secara efektif dalam masyarakatnya, mempelajari nilai, tingkah laku yang cocok agar diterima dalam masyarakatnya.
3 Mempersuasi Memberi keputusan, mengadopsi nilai, tingkah laku, dan aturan yang cocok agar diterima dalam masyarakatnya.
4 Menyenangkan, memuaskan kebutuhan komunikan Menggembirakan, mengendorkan urat saraf, menghibur, dan mengalihkan perhatian dari masalah yang dihadapi.

(sumber : Alexis S. Tan 1981, dalam Nurudin 2006) [6]

Menurut Rahbari (2008), media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah prilaku masyarakat.

Perubahan komunitas akibat proses industrialisasi, urbanisasi, dan modernisasi mengakibatkan efek media massa sangat kuat karena keterikatan antara individu sekarang ini sangatlah lemah. Sehingga dengan adanya media massa dapat membantu sebagai control social untuk menjaga tradisi juga kebudayaan yang ada. Hal ini akan berpengaruh pada komunitas yang ada, yang nantinya komunitas ini merupakan bagian penting dari pengembangan masyarakat. Kerena pembangunan yang dilakukan merupakan pembanguan yang berbasis komunitas atau community based development. Media massa sebagai control social ini diharapkan mampu menjaga 3 aspek penting dalam community based development, yaitu local ecology, local economy, dan social.

Dalam pengembangan masyarakat, media massa mempunyai peranan yang sangat penting dalam komunikasi dua tahap. Dimana dalam program pengembangan masyarakat pendekatan patron and client merupakan salah satu strategi yang dianggap efektif untuk pemberdayaan masyarakat dan suksesnya suatu program.

Para pemimpin pendapat boleh jadi berasal dari tingkat social, ekonomi, dan pekerjaan mana saja. Dalam setipa lapisan masyarakkat yang berbeda, terdapat pemimpin pendapat yang berbeda. Mereka cenderung lebih banyak mempunyai informasi dan lebih sering menggunakan berbagai media massa.( Stewart dan Silvia 1996)[7]

Opinion der
Individuals

Sumber : Hand Out Mata Kuliah Pengembangan Masyarakat IPB, Fredian Tony (2009)

Dalam Komunikasi dua tahap ini, media massa memegang peranan yang sangat penting dalam informasi yang diterima oleh opinion leader. Dimana para opinion leader tersebut nantinya akan mengkomunikasikan apa yang mereka dapat kepada individu-individu yang lain.

Menurut Fredian Tony (2009), media massa mempunyai pengaruh terhadap komunitas, pengaruh media massa terhadap komunitas yaitu :

  • Perubahan pada perilaku warga komunitas
  • Perubahan pada gaya hidup (life style)
  • Perubahan pada norma-norma dan nilai-nilai diantara warga komunitas
  • Perubahan pada tingkat pengetahuan dan pendidikan
  • Perubahan pada kelompok-kelompok, organisasi sosia, dan kelembagaan di tingkat komunitas
  • Berdampak pada pembangunan “ Komunikasi social” (social communication)[8]

Proses komunikasi social yang terjadi di masyarakat merupakan perubahan proses komunikasi dari human communication menjadi mass communication. Salah satu elemen penting dari komunikasi social ini adalah publicness, dimana pada elemen ini media massa memegang peranan yang sangat penting. Bukan hanya sebagai fungsi informasi, namun juga sebagai fungsi interpretasi dan juga entertainment.

Schramn (1964) dalam Mugniesyah (2006) mengemukakan bahwa mass media berperan sebagai agen pembaharu (agent of social change), karena membanu mempercepat proses peralihan masyarakat dari yang tradisional ke yang modern. Sehubungan dengan itu, Schramn mengemukakan berbagai hal yang bisa dilakukan oleh media massa, yang meliputi : (1) memperluas wawasan atau cakrawala pemikiran, (2) memusatkan perhatian khalayak terhadap pesan komunikasi (3) menumbuhkan aspirasi (4) menciptakan suasana membangun (5) mampu mengembangkan dialog tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah politik, (6) mengenalkan norma-norma social (7) menumbuhkan minat atau selera (8) merubah sikap. Sehubungan dengan ke delapan hal yang bisa dilakukan oleh media massa menurut Schram ini jelaslah bahwa media massa memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan masyarakat.[9]

Dengan adanya media massa wawasan dari komunitas sasaran program pengembangan masyarakat akan lebih terbuka. Hal ke empat yang bisa dilakukan oleh media massa yaitu menciptakan suasana membangun akan meningkatkan partisipasi dari pihak komunitas. Dimana partisipasi yang tinggi merupakan salah satu karakter dari pengembangan masyarakat. Hal lain yang dikemukakan oleh Schramn juga akan sangat berpengaruh teerhadap sukses atau tidakanya program pengembangan masyarakat.

Media memainkan peran dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa Indonesia. Sesuai dengan fungsi utama dari media massa, yaitu menyampaikan informasi. Dalam memproduksi informasi, media massa tetap harus memperhatikan kondisi komunikasi sebagai sasarannya, dalam hal ini adalah masyarakat. Media yang ingin berhasil menyampaikan pesan dengan tepat kepada masyarakat harus benar-benar mengenal masyarakat yang dituju. Tanpa itu media tak akan berari apa-apa di mata masyarakat. Oleh sebab itu media berperan sangat besar dalam menentukan apa yang diinginkan oleh masyarakat dan juga sebaliknya. Seperti teori Agenda Setting dan Hipodermic Needle, di mana pesan sangat berpengaruh kepada masyarakat sebagai komunikannya.

Hypodermic needle, atau teori jarum suntik ini merupakan model komunikasi searah yang intinya merupakan model satu tahap, dimana media massa membawa pesan kepada khalayak dan menimbulkan pengaruh langsung pada khalayak. Model ini beranggapan bahwa media massa mempunyai pengaruh langsung, segera, dan sangat kuat terhadap khalayak massa. Model ini menggambarkan media massa sebagai sebuah jarum suntik raksasa yang menyuntik khalyak yang pasif. (Mugniesyah 2006)[10]

Sumber : Kuliah pengantar ilmu penyuluhan

Namun model komunikasi jarum suntik tersebut mendapatkan kritikan dari paul Lazarsfield, kritikannya yaitu :

  • Media massa bukan agent of conversion (agen pengubah perilaku)
  • Pengaruh interpersonal lebih dominan
  • Khalayak tidak pasif menerima apa saja yang “disuntikkan” oleh media massa
  • Khalayak menyaring informasi melalui proses selective exposure dan selective perseption

Kritikan dari Paul Lazarsfield tersebut menunjukkan peranan media massa yang sesungguhnya dalam proses pengembangan masyarakat yang ada. Dimana media massa bukanlah agen peubah yang dapat mengubah seluruh system social yang ada secara langsung, namun media massa hanya dapt membantu sebagai sarana pendukung yang diharapkan dapat memperlancar atau mempermudah tercapainya tujuan dari program tersebut.

Sejarah dan Jenis Media Massa

Media massa hadir tidak lain adalah untuk memeprmudah dan memperlancar proses komunikasi yang ada dalam masyarakat. Karena dengan adanya komunikasi yang baik dan lancar akan memberikan dampak positif terhadap berbgai aspek kehidupan sosila masyarakat. Termasuk pada pengembangan masyarakatnya.

Franz-Josef Eilers (1994) dalam bukunya yang berjudul Communicating in Community menceritakan sejarah perkembangan komunikasi dan medianya. Masyarakat pada jaman sebelum masehi melukis dinding-dinding gua untuk menggambarkan kehidupan yang mereka jalani saat itu. Seperti yang ditemukan di Altmira dan Lascaux.Pada jaman kuno terdapat usaha secara sadar untuk memelihara informasi dan gagasan-gagasan yang diekspresikan melalui bahasa. Bahasa diletakkan dalam bentuk gambar dari hieroglif, gambar tersebut di tuliskan dalam bahasa Mesir kuno dan kebudayaan yang sama. Selanjutnya informasi-informasi dituliskan di atas batu, seperti yang dapat dilihat pada obelis di Roma, tapi bisa juga dengan menggunakan lilin yang tahan lama. Selanjutnya muncullah kertas yang dibuat dari daun tanaman papyrus yang ada di Mesir. Dari material inilah buku pertama di buat. Selanjutnya pada periode pertengahan di Eropa ditandai dengan adanya media cetak dan percetakan berdasarkan dengan mendominasinya produksi kertas pada abad ke-14.

Berkembangnya alat-alat percetakan yang mengantarkan media cetak dan jenis-jenis pubikasi lainnya untuk berubah dari sejumlah pembaca dari golongan atas (periode intelek, abad ke-17 dan 18) menjadi “percetakan populer” murah pada abad 19. Pada abad ke-20 media-media komunikasi baru telah tersedia dalam bentuk film, radio, dan televisi, sehingga membawa sebuah peningkatan kompetisi yang juga merupakan pengganti media cetak. Perkembangan teknologi pada abad 20 tidak hanya menyediakan lebih banyak ahli dan alat-alat yang lebih cepat, juga merubah metode percetakan dari percetakan-kertas dan fotografi menjadi percetakan yang lebih berkembang. Dengan mesin ketik yang sudah hampir tidak ada lagi dan digantikan dengan komputer.[11]

Media Massa (Mass Media) sebagai sarana komunikasi massa (channel of mass communication). Memiliki Ciri-ciri (karakteristik), yaitu disebarluaskan kepada khalayak luas (publisitas), pesan atau isinya bersifat umum (universalitas), tetap atau berkala (periodisitas), berkesinambungan (kontinuitas), dan berisi hal-hal baru (aktualitas). Adapun jenis-jenis media massa adalah Media Massa Cetak (Printed Media), Media Massa Elektronik (Electronic Media), dan Media Online (Cybermedia).

Media massa cetak meliputi Koran (harian mingguan, tabloid), majalah (berita, khusus, hiburan), buletin atau terbitan berkala, buku (pengetahuan, cerita, komik), dan selebaran lepas. Media massa cetak, terutama Koran harian cenderung menjadi media berita, setengah hiburan, dan layanan. Khalayak berdasarkan tingkatan tertentu : pria/wanita, tua-muda-anak, dan awam-ilmuwan. Berita pada Koran bersifat ringkas dan analitik. Berita pada majalah berbeda dengan berita pada koran. Kelemahan factor kekinian dalam berita pada majalah, dikompensasikan dengan pandangan yang analitik dan interpretative. [12]

Media elektronik meliputi radio, televise dan film ( film video, disc video, dan kaset atau disc). Media elektronik cenderung menjadi hiburan, berita, dan layanan. Khalayak bervariasi, sehingga media ini dapat disebut sebagai media massa keluarga. [13]

Media Online adalah website internet yang berisikan informasi- aktual layaknya media massa cetak.Stanley J Baran dalam bukunya yang berjudul Introduction to Mass Communication mengemukakan :

the internet is most appropriately thought of as a’network of networks’ that is growing at an incredibly fast rate”. [14]

Pada abad ke-20 ini internet menjadi salah satu hal yang sangat penting. Dimana dengan internet dapat menajdi cara yang paing tepat untuk menginformasikan sesuatu yang sedang terjadi dengan sangat cepat. Karena internet merupakan jaringan yang dapat terhubung kemana saja.

Efek dari Media Massa

Media Komunikasi massa sebagai bagian dari system komunikasi mengemban tugas sebagai media massa pembangunan, yang dijabarkan menjadi media penerangan, pendidikan, dan hiburan. Namun pada kenyataannya, efek yang di dapat dari media massa tersebut tidak semuanya positif. Penyalahgunaan dan kurangnya informasi dapat pula memberikan efek negative.

Salah satu produk media massa yang berdampak negatif terhadap kesehatan sosial masyarakat, adalah program semacam iklan dan tayangan hiburan. Media banyak menampilkan iklan yang berefek buruk terhadap anak-anak dan remaja. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa iklan rokok bisa menarik perhatian anak-anak dan remaja, sehingga berpotensi menjadikan mereka sebagai konsumen rokok. Begitu juga dengan iklan dan promosi minuman keras dalam acara-acara hiburan. Iklan semacam ini bisa merubah pandangan dan membangkitkan keinginan remaja untuk meminum minuman keras. Padahal betapa banyak riset yang membuktikan, bahwa minuman keras merupakan biang aksi kekerasan dan kriminalitas.

Dampak buruk lainnya media massa adalah kekuatan media dalam mengubah dan membentuk gaya hidup seseorang. Sejumlah peneliti mengungkapkan, menonton telivisi secara berlebihan di kalangan anak-anak bisa menyebabkan cara hidup yang pasif dan malas bergerak pada anak-anak. Hal ini mengakibatkan munculnya gejala semacam kegemukan, kebiasaan makan yang salah, naiknya kolesterol, penyakit pencernaan, dan gangguan psikologis.

Kian meningkatnya arus urbanisasi di negara-negara berkembang, memunculkan pula gaya hidup perkotaan ala Barat. Padahal, setiap negara memiliki kebudayaan dan keyakinan khas yang terkadang berseberangan dengan nilai-nilai Barat. Karena itu, media-media massa lokal harus memberikan perhatian yang lebih serius terhadap nilai dan budaya setempat masyarakatnya.

Oleh karena itu, informasi yang tepat dan pemilihan accara tau berita yang tepat sangatla penting. Karena dengan andanya pengetahuan tentang semua itu, diharapkan peranan media massa dalam pengembangan masyarakat dapat dimaksimalkan.

Namun tidaklah semua efek dari media massa tersebut negative. Efek negative tersebut hanyalah bagian kecil dari media massa yang merupakan hasil dari penyalahgunaan media massa untuk mencari keuntungan semata dan kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh para konsumennya.

Masih banyak efek positif dari media massa, sebagaimana dikemukakan oleh Stewart dan Silvia (19960 dalam bukunya yang berjudul Human communication diantaranya media massa memberikan efek difusi. Dimana lewat media massa kita mempelajari inovasi, penemuan, kecelakaan, pembunuhan, revolusi dan juga bencana alam. Pengaruh terhadap perubahan sikap pun tidak semuanya negative. Banyak diantarany acara atau berita pada media massa yang memberikan contoh yang baik. Seperti acara dakwah, ataupun kisah-kisah yang menyampaikan pesan moral di dalamnya.

Daftar Pustaka

Eiler, Frans – Josef. 1994. Communicating In Community an Introduction to Social Communication. Manila : LOGOS Publication

Tubbs Stewart L dan Silvia Moss. 1996 “ Human Communication” dalam Deddy Mulyanadan gembirasari (penerj). Konteks-konteks Komunikasi. Bandung. PT Remaja Rosdakarya,,,,,,,,,,,,,,,penerbit asli Mc. Graw Hill, Inc., Singapore

Schramm, Wilbur. 1964. Mass Media and National Development The Role of Information in the Developing Countries. Paris : Stanford University Press. Stanford Califronia. And United Nations Educational Scientific and cultural organization paris

Baran Stanley J. 2004. Introduction to Mass Communication Media Literacy and Culture. New York : McGraw-Hill Companies

Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : Rajawali Pers

Sucipto, Toto dkk. 1998. Peranan Media Massa Lokal Bagi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah. Bandung : CV Kidang Mas

Mugniesyah, Siti Sugiah Mahfudz. 2006. Materi Bahan Ajar Ilmu Penyuluhan. Bogor. IPB Pers

Nasdian, Fredian Tonny. 2006. Pengembangan Masyarakat (Community Development). Bogor. IPB Pers


[1] Fredian Tonny Nasdian, Pengembangan Masyarakat (Community Development), hal  5

[2] Ibid, hal 18

[3] ——-, hand uot kuliah Pengembangan  masyarakat Institut Pertanian Bogor, tidak diterbitkan.

[4] Toto Sucipto; Endang Nurhuda; Tjetjep Rosmana; Lasmiyati; Euis Tresnawati; Lina Herlinawati, Peranan Media Massa Lokal Bagi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah, hal 4

[5] Wilbur Schramn. 1964. Mass Media and National Development The Role of Information in the Developing Countries p. 164

[6] Alexis S. Tan 1981, dalam Nuruddin 2006, Pengantar Komunikasi Massa hal 65

[7] Tubbs Stewart L dan Silvia Moss. 1996 “ Human Communication” p 208

[8] Fredian Tony ——-, hand uot kuliah Pengembangan  masyarakat Institut Pertanian Bogor, tidak diterbitkan.

[9] Siti Sugiah Mahfudz Mugniesyah. 2006. Materi Bahan Ajar Ilmu Penyuluhan. hal

[10] Siti Sugiah Mahfudz Mugniesyah. 2006. Materi Bahan Ajar Ilmu Penyuluhan. hal

[11]Frans – Josef Eilers. 1994. Communicating In Community an Introduction to Social Communication. P 51-60

[12]Toto Sucipto; Endang Nurhuda; Tjetjep Rosmana; Lasmiyati; Euis Tresnawati; Lina Herlinawati, Peranan Media Massa Lokal Bagi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah,hal 27

[13] Ibid hal 27

[14] Stanley J Baran. 2004. Introduction to Mass Communication Media Literacy and Culture.